Panduanini : 1. Menurutmu siapa yang banyak melakukan pendidikan Kristen bagimu? Mengapa? 2. Menurut kamu bagaimana supaya baik keluarga, gereja, dan sekolah dapat memaksimalkan pendidikan Kristen bagi kamu? 3. Apa yang dapat kamu lakukan untuk menolong keluarga, gereja dan sekolah supaya lembaga itu dapat melakukan relasi yang bermakna dan saling
131Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti O Allah! betapa indahnya sepiring nasi panas semangkuk sop dan segelas kopi hitam O Allah! kelaparan adalah burung gagak jutaan burung gagak bagai awan yang hitam menghalang pandangku ke sorga-Mu W.S. Rendra "Sajak-sajak Sepatu Tua" (Pustaka Jaya-1972) Menurutmu, bagaimana perasaan si penyair ketika menulis puisi di atas?
SuaraAllah yang tadinya selalu menyukakan hati, sekarang menimbulkan rasa takut dalam hati mereka. Akibat ketidaktaatan Adam dan Hawa kepada Allah, hubungan mereka dengan Tuhan menjadi rusak. Mereka diusir dan tidak boleh lagi tinggal di taman itu. Mereka mengalami banyak kesukaran dan penderitaan.
Siapalagi yang dapat mempunyai maksud demikian kalau bukan Allah yang kekal? Secara istilah Natal berarti upacara yang dilakukan oleh orang Kristen untuk memperingati hari kelahiran yesus.Peringatan Natal baru tercetus antara tahun 325 - 354 oleh Paus Liberius, yang ditetapkan tanggal 25 Desember, sekaligus menjadi momentum penyembahan
bahwamodernisasi adalah sebuah proses dengan Gambar 9.3 Iman Kristen yang aspek penting, yakni efektivitas, efisien, praktis, teguh merupakan senjata untuk sederhana, menghargai kehidupan, dan menghargai menghadapi dampak negatif waktu. Oleh karena itu, keluarga Kristen perlu modernisasi mengembangkan sikap yang terbuka dan mau
1 Pertanyaan seputar nilai kehidupan dan karakter. Setiap anak memiliki karakternya masing-masing, pengetahuan yang ia miliki juga menjadi dasar nilai kehidupannya. Sehingga, jika memiliki nilai-nilai atau pendapat yang berbeda, hindari menyudutkan anak terlebih dahulu. Sebagai gantinya, dengarkan apa alasan anak dan buatlah perbincangan
M50uAfn. Apa artinya menjadi murid Tuhan kita Yesus Kristus? Murid adalah seseorang yang telah dibaptiskan dan bersedia untuk mengambil ke atas dirinya nama Juruselamat dan mengikuti Dia. Seorang murid berusaha untuk menjadi sebagaimana Dia adanya dengan menaati perintah-perintah-Nya dalam kefanaan, sama seperti seorang yang magang berusaha untuk menjadi seperti majikannya. Banyak orang mendengar kata murid dan memikirkan artinya hanya “pengikut.” Namun kemuridan sejati adalah suatu keadaan. Ini menyarankan lebih dari sekadar menelaah dan menerapkan daftar sifat-sifat individu. Murid hidup sedemikian rupa sehingga karakteristik Kristus terjalin menjadi serat ke dalam diri mereka, yang membentuk permadani rohani. Dengarkan undangan Rasul Petrus untuk menjadi seorang murid Juruselamat “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.”1 Dan sebagaimana Anda dapat melihat, menjalin permadani rohani akan kemuridan pribadi memerlukan lebih dari sekadar jalinan tunggal. Di zaman Juruselamat, ada banyak yang mengaku saleh dalam satu atau lain aspek dari kehidupan mereka. Mereka menjalankan apa yang saya sebut kepatuhan selektif. Sebagai contoh, mereka menaati perintah untuk tidak bekerja di hari Sabat tetapi mengkritik Juruselamat karena menyembuhkan di hari kudus Mereka memberi sedekah kepada yang miskin tetapi hanya menawarkan kelebihan mereka—apa yang tidak mereka perlukan bagi diri mereka Mereka berpuasa tetapi hanya dengan wajah yang Mereka berdoa tetapi hanya untuk dilihat Yesus berfirman, “Mereka mendekat kepada-Ku dengan bibir mereka, tetapi hati mereka jauh dari-Ku.”6 Pria dan wanita semacam itu mungkin berfokus pada menguasai sebuah sifat atau tindakan tertentu namun tidak menjadi sebagaimana Dia adanya dalam hati mereka. Mengenai ini, Yesus menyatakan “Banyak orang akan berseru kepada-Ku Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan mukjizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah daripada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan.”7 Sifat-sifat Juruselamat, sebagaimana yang kita rasakan, bukan suatu skrip untuk diikuti atau daftar untuk dipenuhi. Itu adalah jalinan karakteristik, ditambahkan satu pada yang lain, yang berkembang dalam diri kita dalam cara-cara interaktif. Dengan kata lain, kita tidak dapat memperoleh satu karakter seperti Kristus tanpa juga memperoleh dan memengaruhi yang lainnya. Sewaktu satu karakteristik menjadi kuat, demikian juga banyak yang lainnya. Dalam 2 Petrus dan dalam Ajaran dan Perjanjian bagian 4, kita belajar bahwa iman kepada Tuhan Yesus Kristus adalah dasar. Kita mengukur iman kita yang dengannya itu menuntun kita untuk melakukan—dengan kepatuhan kita. “Jika kamu akan memiliki iman kepada-Ku,” Tuhan berjanji, “kamu akan memiliki kuasa untuk melakukan apa pun yang adalah arif menurut-Ku.”8 Iman adalah katalisator. Tanpa perbuatan, tanpa kehidupan yang bajik, iman kita tidak memiliki kuasa untuk mengaktifkan kemuridan. Sungguh, iman adalah Dan juga, Paulus menjelaskan, “Tambahkan[lah] kepada imanmu kebajikan.” Kebajikan ini lebih dari sekadar kemurnian seksual. Itu kebersihan dan kekudusan dalam pikiran dan tubuh. Kebajikan adalah juga kuasa. Sewaktu kita dengan setia menjalankan Injil, kita memiliki kuasa untuk menjadi bajik dalam setiap pikiran, perasaan, dan tindakan. Pikiran kita menjadi lebih terbuka terhadap bisikan-bisikan Roh Kudus dan Terang Kita mempribadikan Kristus tidak hanya dalam apa yang kita katakan dan lakukan namun juga dalam siapa jati diri kita. Petrus melanjutkan, “Tambahkan dalam kebajikan [Anda] pengetahuan.” Sewaktu kita menjalani kehidupan yang bajik, kita jadi mengenal Bapa Surgawi dan Putra-Nya dalam cara yang istimewa. “Barangsiapa mau melakukan kehendak [Bapa]. Ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah.”11 Pengetahuan ini adalah kesaksian pribadi, yang terlahir dari pengalaman pribadi. Itu adalah pengetahuan yang membentuk kita, agar “terang [kita] mengikat pada terang-[Nya], dan kebajikan [kita] mengasihi kebajikan-[Nya].”12 Dengan kehidupan kita yang bajik, kita melakukan perjalanan dari “saya percaya’” menuju tujuan mulia “saya tahu.” Petrus menasihati kita untuk menambahkan “pengetahuan kepada penguasaan diri; dan pada penguasaan diri ketekunan.” Sebagai para murid yang berpenguasaan diri, kita menjalankan Injil dalam cara yang seimbang dan mantap. Kita tidak “lari lebih cepat daripada kekuatan [yang kita miliki].”13 Setiap hari kita bergerak maju, tidak terpengaruh oleh tantangan-tantangan kefanaan yang memurnikan. Menguasai diri dengan cara ini, kita mengembangkan ketekunan dan kepercayaan kepada Tuhan. Kita mampu bersandar pada rancangan-Nya bagi kehidupan kita, meskipun kita tidak dapat melihatnya dengan mata alami kita Oleh karena itu, kita dapat “diam dan [mengetahui] bahwa [Dia] adalah Allah.”15 Ketika kita dihadapkan pada badai kesengsaraan, kita bertanya, “Apakah yang Engkau kehendaki aku pelajari dari pengalaman ini?” Dengan rencana dan tujuan-tujuan-Nya dalam hati kita, kita bergerak maju tidak hanya dengan bertahan dari segala sesuatu namun juga bertahan dengan tekun dan Ketekunan [kesabaran] ini, Petrus mengajarkan, menuntun kita kepada kesalehan. Sebagaimana Bapa sabar terhadap kita, anak-anak-Nya, kita menjadi sabar terhadap satu dengan yang lain dan diri kita sendiri. Kita senang dengan hak pilihan orang lain dan kesempatan yang diberikannya kepada mereka untuk bertumbuh “baris demi baris,”17 “tumbuh makin cemerlang dan makin cemerlang sampai hari yang sempurna.”18 Dari penguasaan diri kepada ketekunan, dan ketekunan kepada kesalehan, sifat kita berubah. Kita memperoleh kebaikan persaudaraan yang merupakan tanda dari semua murid sejati. Seperti orang Samaria yang Murah Hati, kita melintasi jalan untuk melayani kepada siapa pun yang membutuhkan, bahkan jika mereka bukan dalam lingkaran teman-teman Kita memberkati mereka yang mengutuk kita. Kita melakukan kebaikan kepada mereka meski mereka menganiaya Adakah sifat yang lebih saleh atau seperti Kristus? Saya bersaksi bahwa upaya-upaya yang kita buat untuk menjadi murid Juruselamat kita benar-benar ditambahkan sampai kita “memiliki” Kasih ini adalah ciri khas seorang murid Kristus “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai kasih karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.”22 Adalah iman, pengharapan, dan kasih yang membuat kita memenuhi syarat bagi pekerjaan “Demikianlah tinggal … ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih, dan yang paling besar di antaranya inilah kasih.”24 Brother dan sister, sekarang lebih dari sebelumnya, kita tidak bisa menjadi “murid paruh waktu”! Kita tidak bisa menjadi murid hanya pada satu poin ajaran atau yang lainnya. Konstelasi [kumpulan] karakteristik yang dihasilkan dari iman kepada Kristus—termasuk karakteristik-karakteristik yang telah kita bahas hari ini—semuanya penting untuk kita berdiri kukuh di zaman akhir ini. Sewaktu kita dengan sungguh-sungguh berupaya untuk menjadi murid sejati Yesus Kristus, karakteristik-karakteristik ini akan terjalin, ditambahkan, dan secara interaktif diperkuat dalam diri kita. Tidak akan ada ketidakseimbangan antara kebaikan yang kita perlihatkan kepada musuh-musuh kita dan kebaikan yang kita berikan kepada teman-teman kita. Kita akan menjadi sama jujurnya ketika tidak seorang pun melihat sebagaimana ketika orang lain menyaksikan. Kita akan menjadi sama berdedikasinya kepada Allah di depan umum sebagaimana ketika kita di kamar pribadi kita. Saya bersaksi bahwa semua orang dapat menjadi murid Juruselamat. Kemuridan tidak dibatasi oleh usia, jenis kelamin, asal usul etnis, atau pemanggilan. Melalui kemuridan individu kita, kita, sebagai Orang Suci Zaman Akhir, membangun kekuatan kolektif untuk memberkati brother dan sister kita di seluruh dunia. Sekarang adalah waktunya untuk bertekad diri untuk menjadi murid-Nya dengan segala ketekunan. Brother dan sister, kita semua dipanggil untuk menjadi murid Juruselamat. Biarlah konferensi ini menjadi kesempatan Anda untuk “[memulai] seperti pada zaman dahulu, dan datanglah kepada [Dia], dengan sepenuh hatimu.”25 Ini adalah Gereja-Nya. Saya memberikan kesaksian khusus saya bahwa Dia hidup. Semoga Dia memberkati kita dalam pencarian kekal kita untuk menjadi murid-murid yang berbakti dan gagah berani. Dalam nama Yesus Kristus, amin.
Nama Helena KristinaKelas XI MIPA 2 Mata Pelajaran Agama KristenRelasi Bermakna Antara Keluarga dan SekolahkuKegiatan 1 Curah PendapatKemukakan menurut pendapat kamu, bagaimana seharusnya pendidikan yang baik bagi anak dan remaja di rumah dan sekolah? Apa saja yang harus dipenuhi oleh keluarga maupun sekolahmu dalam dunia pendidikan? Bagaimana tanggapan kamu tentang pendidikan pada masa sekarang ini?Jawaban Pendidikan anak dan remaja di sekolah tentu nya harus lebih di fasilitas kan denganfasilitas yang layak, mengapa demikian? Karena fasilitas tersebut akan membantu prosesbelajar anak dan remaja sehingga dapat memudahkan nya, kedua dalam proses mengajar jugaharus dengan metode yang berbeda. Anak dan remja juga perlu refresh, jangan dituntut untukselalu berpikir. Beri mereka metode yang mengasyikkan dan masukkan pembelajaran didalamnya agar anak dan remaja tidak bosan dan cepat tangkap, dan jangan sekali-kalimemberi anak dan remaja perbandingan dengan tujuan memotivasi jutsru menjatuhkansemangat anak. Sementara pendidikan anak dan remaja di rumah, kita harus mendisiplinkankan waktu kepada mereka. Beri anak dan remaja pengertian dengan pemahaman yang merekadapat cerna dengan baik, dan bantu anak dan remaja dalam perkembangan belajar mereka di mana letak kesulitan nya, ajak anak dan remaja belajar bersama-sama. Menurut saya pendidikan pada masa sekarang ini sudah memasuki pendidikan yangmodern,kita dapat mempelajari pendidikan dari bidang manapun dan melalui media dengan menggunakan media, memudahkan kita untuk mempelajari 2 Diskusi dalam Kelompok Kecil Buatlah kelompok kecil, 2-3 siswa dalam satu kelompok. Diskusikan pertanyaan panduan ini1. Menurutmu siapa yang banyak melakukan pendidikan Kristen bagimu? Mengapa? 2. Menurut kamu bagaimana supaya baik keluarga, gereja, dan sekolah dapat memaksimalkanpendidikan Kristen bagi kamu?
Uploaded by2OO5O2135 Supryadi Manalu 83% found this document useful 6 votes7K views5 pagesCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?Is this content inappropriate?Report this Document83% found this document useful 6 votes7K views5 pagesBab 10 AgamaUploaded by2OO5O2135 Supryadi Manalu Full descriptionJump to Page You are on page 1of 5Search inside document You're Reading a Free Preview Page 4 is not shown in this preview. Buy the Full Version Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Manusia pada dasarnya membutuhkan orang lain untuk dapat bertahan dalam kehidupan ini, karena manusia diciptakan sebagai mahkluk sosial. Dalam bidang kehidupan apapun kita membutuhkan kehadiran seseorang yang mampu menolong kita atau membantu kita melakukan sesuatu. Dalam salah satu bidang itu secara khusus setiap orang sejatinya membutuhkan pengarah pula agar dalam setiap tingkah lakunya dapat terarah dengan baik dan tidak salah dalam mengambil setiap keputusan. Dari kebutuhan inilah maka perlu ada role model yang dapat dijadikan teladan dan dapat mengajar dengan baik layaknya seorang guru yang profesional. Kehadiran sosok guru juga dibutuhkan dalam pembentukan karakter seseorang supaya pendidikan dapat berjalan maksimal. A. Mengapa Harus Yesus Kristus? Pertanyaan yang mendasar dalam pembahasan ini adalah "mengapa harus Yesus Kristus yang menjadi teladan dan guru kita?" Pertanyaan tersebut sesungguhnya dapat dipahami sebagai pertanyaan retoris bagi umat Kristen. Bagaimana tidak, jika kita melabeli diri kita sebagai orang Kristen maka secara sadar seharusnya kita dapat dengan mudah menjawab pertanyaan tersebut. Jawaban yang sudah tentu ialah karena kita disebut sebagai orang Kristen maka pastilah Yesus Kristus sendiri yang harus menjadi teladan utama bagi orang-orang Kristen. Sama seperti makna sebutan Kristen sendiri yang disematkan pada pengikut Kristus sejak di Anthiokia Kis. 1126. Dasar inilah yang menjadi alasan mengapa Kristuslah yang seharusnya menjadi role model utama untuk diteladani. Selain dari pada itu Kristus merupakan sosok yang paling tepat sebagai Guru, karena Dia sendiri adalah Allah. Meskipun begitu, dalam sosok manusianya Kristus juga telah menunjukan kehebatannya sebagai pendidik dan pengajar. Dalam tugas-Nya sebagai Guru, Yesus menekankan kebersamaan atau persekutuan. Melalui persekutuan itu para murid melihat Yesus sebagai sosok yang penuh dengan pengetahuan, hikmat dan wibawa atau kharisma serta kedalaman Model Pengajaran Ketrampilan-Nya dalam mengajar menggunakan metode perumpamaan pada zaman itu ialah sebuah terobosan yang menyegarkan dalam dunia pendidikan kala itu. Sebab, tidak banyak dari para pengajar taurat pada masa itu yang lihai dalam menganalogikan sebuah pengajaran. Perumpamaan-perumpaan yang disampaikan Yesus memudahkan banyak orang untuk mengerti serta memahami pengajaran-pengajaran yang diberikan-Nya. Menjadikan diri-Nya sendiri sebagai contoh yang nyata membuat pengajaran-Nya semakin kokoh dan dapat dipercaya oleh banyak orang. Berikut beberapa teladan dari Yesus Kristus yang dapat kita pakai sebagai standar pengajaran 1 Tetap Setia dalam Penderitaan1 Petrus 2 21 mengatakan, kita telah dipanggil karena Kristus telah lebih dahulu menderita untuk menjadi teladan bagi kita, supaya kita mengikuti jejaknya. Kristus menjadikan dirinya contoh nyata atas kesetiaan di masa penderitaan. Supaya murid-muridNya melihat juga dan mengajarkan kembali kepada generasi selanjutnya 1 2 3 Lihat Pendidikan Selengkapnya
Nasib Tua Lumban Gaol Manajemen Pendidikan Kristen, Istitut Agama Kristen Negeri IAKN, Tarutung Andrianus Nababan Manajemen Pendidikan Kristen, Istitut Agama Kristen Negeri IAKN, Tarutung Keywords Christian Leadership, Christian Religious Teacher Leadership, Education, Educational Leadership, Learning Procedure Abstract Christian religious teacher leadership contributes to improving the learning process quality in school and national educational activity contexts. Ironically, Christian religious teachers are still lacking knowledge in leadership, and not applying adequate leadership in the learning process. Thus, this paper was aimed to depict some characteristics of Christian religious instructor leadership that should be implemented. Based on the result of reviewing, these were plant some of Christian religious teacher leadership characteristics 1 serving students with the center; ii acting off-white according to the truth of God’s discussion; 3 having optimistic to brainwash; 4 able to manage time well; 5 loving students; 6 making decision objectively and firmly. In an try to develop the Christian religious instructor leadership, further research and studies are needed to conduct in order to build the Christian religious teacher leadership concept. Downloads Download information is not yet bachelor. References ______. 2010. Himpunan Peraturan Perundang-undangan Sisdiknas Sistem Pendidikan Nasional. Bandung Fokus Media. ______. 2012. Alkitab. Jakarta Lembaga Alkitab Republic of indonesia. Berg, J. H., & Zoellick, B. 2022. Instructor leadership toward a new conceptual framework. Periodical of Professional Capital and Community, 41, two-xiv. Harris, A. 2015. Teacher leadership. International Encyclopedia of the Social & Behavioral Sciences, 2nd edition, 24, 60-63. Hasanah, D. S., & Fattah, Due north. 2010. Pengaruh pendidikan Latihan Diklat Kepemimpinan Guru dan Iklim Kerja terhadap Kinerja Guru Sekolah Dasar se Kecamatan Babakan Cikao Kabupaten Purwakarta. Jurnal Penelitian Pendidikan, xi2, 85-96. Hine, G. S. 2014. Student Leadership Development A Functional Framework. Journal of Catholic Instruction, xviii 1, 79-110. Hook, D. P. 2006. The impact of instructor leadership on school effectiveness in selected exemplary secondary schools Doctoral dissertation, Texas A&M University. Diakses dari Lowery-Moore, H., Latimer, R. M., & Villate, 5. M. 2016. The essence of teacher leadership A phenomenological inquiry of professional person growth. International Periodical of Instructor Leadership, vii1, 1-16. Lumban Gaol, Due north. T. 2017. Teori dan implementasi gaya kepemimpinan kepala sekolah. Kelola Jurnal Manajemen Pendidikan, 4ii, 213-219. Priansa, D. J. 2014 Kinerja Profesionalisme Guru. Bandung Alfa Beta. Rohani, A. 2004. Pengelolaan pengajaran. Jakarta PT Rineka Cipta. Sari, I. Due north. 2017. Kepemimpinan Moral-Spiritual Guru dalam Pembentukan Karakter Peserta Didik.Studi Multikasus di Sekolah Dasar Plus Al Kautsar, Sekolah Dasar Negeri Kauman I, dan Sekolah Dasar Katolik Santa Maria II di kota Malang. Disertasi Program Pascasarjana UM. Diakses dari Soetopo, H. & Soemanto. W. 2008. Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan. Jakarta PT Bina Aksara. Tomatala, Y. 2002. Kepemimpinan Kristen. Djakarta YT Leadership Foundation. Warren, L. Fifty. 2022. Behaviors of teacher leaders in the classroom. Psychology and Behavioral Sciences. 76, 104-108. Willy, J., S. 2009. Pb Past Eye Kepemimpinan Andal yang Menggunakan hati. Yogyakarta Andi. Winardi. 2000. Kepemimpinan dalam manajemen. Jakarta PT Rineka Cipta Wirawan, M. S. 50. 2013. Kepemimpinan. Djakarta PT Rajagrafindo Persada Wolterstorff, Northward. P. 2014. Mendidik untuk Kehidupan Refleksi mengenai pengajaran dan pembelajaran Kristen Terjemahan. Surabaya Momentum. PDF How to Cite Lumban Gaol, N. T., & Nababan, A. 2022. Kepemimpinan Guru Pendidikan Agama Kristen. Kelola Jurnal Manajemen Pendidikan, six1, 89-96.
menurutmu siapa yang banyak melakukan pendidikan kristen bagimu mengapa